إِنَّا
لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
Sehari sebelum alm. Brigadir Arifin memutuskan untuk mengakhiri
hidupnya dengan cara menembakkan peluru ke kepalanya, Bripka Oktavianu (35),
anggota Polsek Juli Kabupaten Bireuen juga menarik pelatuk senjatanya sekitar
pukul 15.00 WIB hari Jumat (3/4/2015) di rumah mertuanya di Dusun Selatan, Desa
Cot Gapu, Kecamatan Kota Juang, Bireuen. Senjata yang dipergunakan merupakan
senjata organik Polri miliknya, pun jalan yang sama di ambil
oleh Wakapolsek Banyumanik Kota Semarang AKP Sunarto Jumat pada tanggal (16/1/2015) dengan cara menenggak racun.
Dari rentetan peristiwa ini alhasil telah 3 orang anggota Polri memilih mengakhiri
hidupnya dengan cara yang sama, dan mudah-mudahan langkah atau tindakan yang
diambil oleh alm. Brigadir Arifin adalah tindakan terakhir di internal
Kepolisian amin..amin.. ya Allah.
Kejadian mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri juga terjadi tahun lalu
dengan jumlah yang sama yaitu 3 orang meninggal
dunia dan pada tahun 2013 juga tercatat 3 orang anggota Polri bernasib sama, beliau yang
semoga Allah swt mengampuninya dan memberikan tempat yang lebih baik dari pada
di dunia ini adalah alm. Aiptu
Yudika Manao (44) anggota
Satuan Reserse Kriminal Polresta Barelang, Briptu
Guntur Waluyo (26), anggota Satuan Reserse Kriminal
Polres Sukabumi, Aiptu
Antoni Sarito Gultom (51) Anggota Polsekta Samarinda Ilir, Kota
Samarinda. Dan yang tercatat pada tahun 2013 adalah Aiptu Joko Subandi (48), anggota Satuan
Dalmas Polres Kota Magelang, Bripka Jeremmy Manurung (31) Personel Polda Metro
Jaya, dan Briptu Andre Hutabarat anggota Kepolisian
Resor Kota Medan.
Angka bunuh diri anggota Polri dari tahun ke tahun semakin
memprihatinkan, apa dan bagaimana ini bisa terjadi??? merupakan sebuah renungan
bersama, mereka adalah rekan kita, teman seprofesi, mereka adalah atasan juga
bawahan para pengambil kebijakan dan keputusan. Adrianus
Eliasta Meliala mengatakan “Jiwa Soliter Membuat Anggota Polisi Nekat Bunuh
Diri” benarkah kita se soliter itu? ataukah saya yang kurang memahami arti
kata soliter yang root of the languagenya berasal dari bahasa inggris “solitary”
yang merupakan kata sifat dengan arti kata ; tersendiri, sunyi, terpencil, atau
tunggal parahnya lagi if we try to open in a dictionary of english we would be
find this “Existing, living, or going without others” (ada, hidup, atau pergi
tanpa orang lain) benarkah kita se soliter itu baik dalam pekerjaan sehari-hari terlebih terhadap kehidupan
pribadi kita atau jangan-jangan
kita memang soliter baik dalam pekerjaan atau kehidupan pribadi, seperti yang
dikatakan komisioner Kompolnas itu, I
don’t think so saya yakin untuk pekerjaan kita masih solid, Polri adalah sebuah
organisasi besar kalo tidak memiliki solidaritas mana mungkin bisa bertahan
sampai dengan umur 68 tahun, yang perlu digaris bawahi kita solid bukan dalam
hal mempertahankan mindset, mentalset dan cultureset yang menyimpang dari
nilai-nilai Tribrata dan Catur Prasetya, kembali ke laptop (kata Tukul Arwana), satu hal yang pasti berdasarkan penuturan
media cetak dan media online bahwa peristiwa bunuh diri di internal Polri banyak
di latar belakangi permasalahan pribadi apa dan bagaimana masalah tersebut
hanya orang – orang terdekat almarhumlah yang mungkin paling mengetahuinya dan banyak juga media yang menambahkan karena
persoalan beban ekonomi dan persoalan asmara.
Cukup ironis jika
dikaitkan dengan persoalan beban ekonomi sementara banyak yang berpendapat bahwa
kehidupan anggota Polri bahkan yang berpangkat bintara pun dapat memiliki harta
yang segudang (ya Allah mudah-mudahan nantinya saya termasuk yang disebut media
itu) dan ternyata hal ini seolah-olah
di iyakan oleh kebijakan pemerintah dengan kontrasnya perbedaan tunjangan Polri
dengan tetangga tuanya tanpa
pernah ada yang tahu pasti apa yang menyebabkan perbedaan itu, lalu apakah
sebenarnya persoalan beban ekonomi masih bisa dikatakan sebagai salah satu latar
belakang beberapa kasus tindakan bunuh diri sementara banyak media
menggambarkan Polisi itu hidupnya sejahtera dan luxury jawabannya tentu saja “ya”. (kan ada polisi
kaya ada polisi tidak kaya, tidak cukup kaya bahkan mungkin polisi miskin
seperti Bripda Taufik) lah.. bukankah gaji Polisi itu sudah ditentukan sesuai
dengan pangkatnya lalu bagaimana bisa
seorang polisi dengan pangkat sama bisa memiliki kehidupan yang lebih sejahtera
dibandingkan dengan yang lainnya (mungkin mereka yang kaya karena punya bisnis
atau mungkin karena ** tahukan maksudnya **
). lalu apa hubungannya soliter dan latar belakang persoalan beban ekonomi dan
persoalan asmara dan bagaimana kita dapat bersifat solid pada kedua persoalan
itu? okay menurut renungan saya (saya sebut renungan karena dari awal saya mengajak anda untuk merenung) untuk persolan asmara
mungkin individu akan cenderung bersifat soliter meskipun kita ingin
mengintervensinya apa lagi jika hal itu bersifat aib dan tabu namun tetap ada jalan
menuju Roma hanya saja jalan itu perlu
kita
cari bersama-sama. Kedua persoalan beban ekonomi, langsung saja untuk beban ekonomi untuk
wajarnya tentunya harus disesuaikan dengan pendapatan dan pengeluaran namun sesuai
fakta bagaimana jika seorang anggota Polri
memiliki pinjaman di Bank dengan potongan hampir ½ dari gaji bahkan lebih,
otomatis akan membuat pendapatan
berkurang dan akan semakin susah untuk mengatur pengeluaran syukur-syukur kalau
pinjaman tersebut untuk bisnis dan dengan bisnis tersebut dapat mendatangkan keuntungan
tapi bagaimana kalau untuk DP rumah dan lain sebagainya yang tidak membuat
pendapatan semakin besar lalu bagaimana dengan cicilannya per bulan, saya tidak
menutup mata untuk hal ini karena saya pun mengalaminya.
Kenapa kita
langsung membahas pinjaman uang di Bank karena 80 % bahkan lebih anggota Polri
memiliki pinjaman di Bank (bagaimana
dengan anda saudara apakah anda memiliki pinjaman di bank), saya yakin
jika semua anggota Polri tidak memiliki pinjaman di bank gaji ditambah
tunjangan kinerja mungkin cukup apalagi kalau semua hak-hak di luar gaji
tersalurkan full seperti ** tahulah apa itu **, yang kedua, ini yang penting kalau
uang bank sudah diambilnya, koperasi sudah diambilnya lalu ada kebutuhan yang
mendesak atau katakanlah
pendapatan itu sudah sangat sangat tidak seimbang dengan pengeluaran selanjutnya
bagaimana? sekali lagi saya yakin
bahwa dengan pendapatan sudah berkurang tentunya kita tetap dapat hidup
sebagaimana hidupnya orang dengan pendapatan seperti itu “lihatlah ke bawahmu
jika itu menyangkut masalah harta dan dunia” HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth. Namun karena kita membahas soliter atau solidaritas persoalan
beban ekonomi menurut saya, rekan, bawahan dan terutama atasan di
lingkungan kerja adalah jawabannya dengan
segala permakluman yang dimilikinya jika ada kebutuhan yang mendesak bukannya rentenir ataupun menjual harta
satu-satunya yang dimiliki, permasalahannya sejauh mana kemauan kita untuk membuka diri bagi rekan dan bawahan yang memiliki persoalan ekonomi atau
maukah kita mengulurkan tangan ketika
mereka bertanya tolong saya…! sehingga ke depan tidak ada lagi Polri bunuh
diri akibat persoalan ekonomi karena sedikit banyaknya taraf kehidupan
memberikan kontribusi dalam peristiwa bunuh diri saya juga mengakui kehidupan
yang serba luxury bukan jaminan tindakan bunuh diri tidak akan terjadi pada satu kelompok tertentu yang serba berkecukupan, dan saya juga paham ada
segelintir orang yang suka
memanfaatkan sikap solider tersebut.
Pada paragraf saya di atas saya coba membahas upaya preventif untuk
sebuah pasca peristiwa tertentu, upaya preemtif dan preventif pra rangkaian
peristiwa tertentu tentunya lebih baik misalnya dengan cara bagaimana agar
tidak perlu bank untuk memiliki rumah (ada nggak yach, adalah!) atau dengan opini-opini yang selama ini kita dengar untuk meningkatkan taraf
kehidupan anggota Polri oleh para pengambil kebijakan sehingga
permasalahan ekonomi tidak lagi menjadi issue latar belakang peristiwa bunuh
diri bagi anggota Polri dan sejatinya
issue ini memang tidak sepatunya menjadi alasan bisa kita bayangkan semua
masyarakat miskin akan memilih bunuh diri jika kaitkan dengan issue ekonomi,
lalu bagaimana mereka dapat bertahan jawabannya bukan taraf kehidupannya tapi di
komunitas mana anda hidup dan bagaimana anda menyikapi orang-orang yang ada
dalam komunitas anda, komunitas lain tidak akan pernah memusingkan komunitas
lainnya karena rivalitas hanya terjadi dalam komunitas, dan rivalitas inilah
yang kadang membuat kita tidak cukup dalam hal ekonomi tatkala yang lainnya
mampu dan bertindak soliter.
Banyak issue selain permasalahan ekonomi yang melatar belakangi
tindakan bunuh diri tak hanya di Pori tapi secara umum untuk masyarakat, persoalannya pernahkah kita mengkaji kenapa
rekan rekan
kita, teman seprofesi kita, atasan juga bawahan para pengambil kebijakan dan
keputusan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri. Alm. Brigadir Arifin anggota Polsekta Manggala memutuskan untuk
mengakhiri hidupnya dengan cara menembakkan peluru ke kepalanya dan kepemilikan Senjata
Api
akan kembali dikaji dan dievaluasi, Wakapolsek
Banyumanik Kota Semarang AKP Sunarto memilih dengan cara
menenggak racun, lalu apakah yang akan dianalisa dan dievaluasi jenis racunnya tentunya tidak, bagaimana dengan janji Wakapolsek yang pada hari saat kematiannya
akan melunasi utang kaligrafinya kepada penagih yang akan datang ke rumah
dinasnya, mudah-mudahan almarhum tidak meminum racun karena takut akan ditagih dan
tidak memiliki uang, namun seperti dugaan orang AKP Sunarto bunuh diri karena
frustrasi penyakitnya tak kunjung membaik. Alm. Brigadir Arifin dan AKP Sunarto dan yang lainnya adalah sosok yang semasa
hidupnya ada dan tinggal dalam sebuah
komunitas dan komunitas itu adalah POLRI mari kita bersikap solider di dalam komunitas
kita.
Mohan maaf jika ada salah
kata dan kepada Almarhum kami doakan mudah-mudahan Allah swt menjauhkan darinya
siksaan kubur dan mendapatkan kuburnya indah jauh lebih indah dari tempat
tidurnya di dunia dan pada akhirnya dimasukkan dalam surgaNya . amin ya Rabb
Alamin.

0 komentar:
Post a Comment